Selasa, April 28, 2009

Kehidupan Keluarga Bisa Mengalahkan Orang IQ Tertinggi

Kehidupan Keluarga Bisa Mengalahkan Orang IQ Tertinggi
(Dikutip dari www.swa.co.id yang diilhami dari buku Outliers, Malcolm Gladwell)

Dengan IQ 195, Chris Langan adalah manusia paling jenius di AS (kalau tidak di dunia) saat ini. Sebagai pembanding, IQ seorang Albert Einstein “cuma” 150. Toh, Langan hanya bekerja di bar, kemudian peternakan kuda. Keadaan ini membuktikan bahwa orang paling jenius pun membutuhkan bantuan orang lain untuk sukses.

Lahir pada 1957 di San Francisco sebagai anak tertua dari empat bersaudara yang masing-masing berlainan bapak, Langan tidak hanya hidup dalam kemiskinan, tetapi juga siksaan fisk dan mental dari ayah tiri maupun teman-temannya sendiri. Kendati demikian, bakatnya sudah bersinar sejak bayi. Pada umur 6 bulan, Langan sudah bisa bicara, usia tiga tahun membaca, lima tahun bertanya tentang eksistensi Tuhan kepada kakeknya — dan ingat tak puas dengan jawaban yang diterimanya.

Ketika mulai sekolah, Langan pindah ke Bozeman, Montana. Namun, walau bukan di sekolah bagus, dia mendapat nilai SAT sempurna sehingga ditawari dua beasiswa penuh: satu dari Reed College, Oregon, yang satu lagi dari University of Chicago. Dia memilih Reed (sebuah college liberal, tempat Steve Jobs kuliah selama setahun).

“Itu kesalahan besar,” kata Langan mengenang. “Saya terkena gegar budaya.” Dia yang berambut cepak dan sepanjang musim panas bekerja di peternakan kuda tiba-tiba harus sekelas dengan remaja gondrong yang kebanyakan dari New York. “Jadi, saya banyak sembunyi di perpustakaan.”

Lalu, lanjutnya, “Saya kehilangan beasiswa… Ibu saya seharusnya mengisi financial statement untuk perpanjangan beasiswa saya. Entah bagaimana, dia tidak melakukannya.” Ketika Langan menceritakan kesulitannya ke bagian administrasi, tak seorang pun mau peduli. Marah dengan perlakuan seperti itu, dia hengkang sebelum ujian akhir sehingga transkrip pada semester II itu mendapat F semua — bagai bumi dan langit dengan nilai semester I yang A semua.

Setelah bekerja sebagai kuli bangunan dan pemadam kebakaran hutan selama 1,5 tahun, Langan mendaftar ke Montana State University. “Saya kuliah matematika dan filsafat,” ujarnya. “Lalu, datanglah musim dingin. Saya tinggal 13 mil dari kota, dan mobil saya rusak. Kuliah saya pukul 7.30 dan 8.30.”

Maka, Langan lalu menghadap dosen pembimbing untuk pindah kelas. Permintaannya ditolak. Dia naik banding ke dekan — juga ditolak. Sejak itu, Langan tak kuliah. Dan, tanpa gelar Ph.D., buah pikiran ilmiahnya tak pernah diperhatikan kalangan ilmuwan mana pun.

Gladwell lalu mengontraskan kegagalan Langan dengan kisah sukses Oppenheimer. Melakukan percobaan lab di kelas 3 SD serta belajar fisika dan kimia di kelas 5, bocah jenius ini kuliah di Harvard kemudian Cambridge University untuk gelar Ph.D. di bidang fisika. Di Cambridge, Oppenheimer yang bergulat dengan depresi seumur hidupnya jadi pemberontak.

Ceritanya, bakat Oppenheimer adalah fisika teori, tetapi pembimbingnya memaksa dia ikut fisika eksperimental yang tak disukainya. Suatu hari, karena tak tahan lagi, Oppenheimer mengambil beberapa zat kimia dari lab dan mencoba meracun Patrick Blackett (sang pembimbing yang pada 1948 memenangi Nobel).

Untungnya, Blackett curiga. Oleh universitas. Oppenheimer muda langsung disidang. Hasilnya? Tak kalah mengherankan dibanding kenekatan Oppenheimer meracun pembimbingnya. Anak muda itu hanya diberi peringatan dan harus konsultasi rutin dengan seorang psikiater ternama di London.

Bayangkan, dua orang jenius ― yang satu harus jebol kuliah di sebuah college kecil AS yang bereputasi tinggi (secara teoretis lebih toleran) hanya karena ibunya lupa mengisi formulir, yang satu lagi hanya diberi peringatan oleh sebuah universitas besar Inggris (yang biasanya kaku) walau melakukan percobaan pembunuhan. Alangkah berkuasanya sang nasib. Kisah penunjukan Oppenheimer sebagai scientific director Proyek Manhattan, 20 tahun kemudian, memberikan gambaran lebih jelas tentang perbedaan nasibnya dari Langan.

Jenderal yang jadi penanggung jawab proyek pembuatan bom nuklir pertama AS itu adalah Leslie Groves. Guna memilih project leader, dia keliling negeri menemui para ilmuwan top. Secara teoretis, peluang Oppenheimer junior dibanding para anggota tim¾sangat kecil. Dia baru 38 tahun yang akan dipimpin. Dia juga ahli fisika teori, dan proyek itu terutama dikerjakan para experimenter dan engineer. Afiliasi politiknya pun meragukan, banyak temannya yang komunis. Lagi pula, dia tak punya pengalaman administratif, tidak paham sedikit pun tentang peralatan.

Seorang ilmuwan Berkeley menggambarkan Oppenheimer dengan lebih lugas, “Menjalankan stan hamburger saja dia tidak bisa…” Dan, jangan lupa, dia juga pernah coba membunuh pembimbingnya.

Bisakah orang dengan resumé seperti itu terpilih memimpin pekerjaan terpenting abad ke-20? Nyatanya bisa. Dan, rahasianya, seperti ketika dia lolos dari hukuman di Cambridge.Oppenheimer tahu betul orang kunci untuk Proyek Manhattan itu adalah Groves. Maka, dia mengerahkan segala kelebihan yang dia punya buat menarik hati sang Jenderal. “Dia itu jenius,” ujar Groves. “Betul-betul jenius.”

Groves adalah engineer dengan gelar pascasarjana dari MIT. Sebagai alumni Harvard yang hanya “sepelemparan batu” dari MIT, Oppenheimer paham apa yang menarik bagi Groves. Dan, karena kebetulan dia adalah ilmuwan pertama yang ditemui Groves, kesan yang ditanamkannya menancap dalam di benak sang Jenderal.

Langan tak mampu membawa diri seperti Oppenheimer. Pengalaman hidupnya yang teramat keras tak mengajarkan hal-hal seperti itu. Studi oleh Lewis Termat yang memonitor kehidupan para jenius yang lahir antara 1903 dan 1917 memperkuat bukti bahwa pengalaman ― yang terkait nasib, karena banyak yang tak dapat dielakkan ― sangat menentukan keberhasilan meraih sukses. Keluarga Langan berantakan, ibunya cerai tiga kali. Sang Ibu tak peduli dengan pendidikan anaknya. Sebaliknya Oppenheimer dibesarkan di keluarga yang harmonis.

Pengalaman, bahkan budaya lama, menurut Gladwell memainkan peran penting dalam cara bertindak dan, karenanya, dapat menentukan sukses. Budaya pertanian padi, misalnya, membuat anak-anak Asia selalu mencetak nilai lebih tinggi di bidang matematika ketimbang anak-anak Barat yang berlatar belakang budaya pertanian gandum. Penyebabnya, untuk sukses bertanam padi yang rumit itu diperlukan kerja keras yang panjang, sementara gandum dapat dimekanisasi dan lahannya harus diistirahatkan. Budaya kerja keras berkepanjangan itu membuat anak-anak Asia terbiasa lebih persisten menghadapi soal-soal sulit.

Salam SuksesMulia
Jamil Azzaini.

Belum Ada Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Arsip Blog

@ All Right reserved 2008. Edited By JuraganTAHU Design by usuario ^