Rabu, Juli 15, 2009

Kemenangan Kultural dan Statistika

"INI beyond political choice. Ini cultural choice," kata Fachri Ali. Pengamat politik santun dan tajam itu bicara di sebuah acara hanya beberapa jam setelah pemilihan presiden, kemarin.

Hasil hitung cepat dari beberapa lembaga survei menempatkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono meraih suara di atas 50 persen.
Artinya, jika hitung cepat itu betul-betul menggambarkan perolehan suara yang sebenarnya, SBY - begitu sebutan yang telah jadi merek populernya - melanjutkan haknya untuk kedua kalinya memimpin Indonesia.

Sebagai orang yang pernah mendapat Ilmu Statistik dari salah satu perintisnya di Indonesia yaitu Profesor Andi Hakim Nasution, saya percaya pada hitung cepat. Saya percaya pada Ilmu Statistika. Hitung cepat adalah aplikasi paling populer saat ini dari Ilmu Statistika.

Bisakah Statistika dipakai untuk berdusta? Bisa! Sebagai mana Fisika Nuklir bisa disalahgunakan untuk membuat bom atom, dan Albert Einstein menyesali itu sepanjang sisa hidupnya.

Penguasa Ilmu Statistika adalah orang yang melihat banyak hal dari seonggok data, yang bagi orang lain mungkin cuma angka-angka mati.

"Yang paling bahagia melihat hasil Pilpres ini siapa, tahu tak?" tanya Socrates, Pemimpin Umum Batam Pos pada saya saat saya menulis kolom ini, "Dia itu Denny JA. Soalnya, angka prediksi yang ia umumkan sebelum pemilu ternyata betul!"

Yang dilakukan Denny JA bersama lembaga surveinya adalah penerapan sederhana saja dari Ilmu Statistika.
Data yang terkumpul dari survei menjadi valid sebagai dasar untuk mengambil keputusan kalau ia dikumpulkan dengan metode yang baik. Teknik pengambilan contoh menjadi penting. Teknik menyebar titik contoh sangat menentukan. Untuk itu, keragaman dari medan contoh harus dipetakan.

Saya kira, tim kerja (saya tak mau menyebut tim sukses) pasangan SBY-Boediono telah memanfaatkan metode statistika itu.

Anda mungkin mau bilang, "soal memilih inikan masalah hati? Masalah pikiran? Mana bisa diukur dengan angka statistika?" Nah, itulah tadi pentingnya mengetahuikeragaman dari medan contoh. Dalam statistika modern tak ada yang tak bisa diterjemahkan dengan angka.

"Dengan sebuah tabel, kita bisa mengubah dunia," kata kawan kuliah saya dulu, dia mahasiswa Jurusan Statistika.

Setelah debat capres pertama di televisi saat putaran kampanye lalu, pagi-pagi saya menerima telepon. Dia menyebut nama dan sebuah lembaga survei. Saya tak tahu dari mana data nama dan nomor telepon rumah saya didapatkan. Dan saya tidak bertanya tentang hal itu.

Si penelepon - seorang yang saya kira dari cara bicaranya sangat terlatih - bertanya apakah saya menonton acara debat malam itu? Siapa yang menurut saya penampilannya paling memukau? Siapa yang akan saya pilih seandainya pagi itu pemilihan digelar?

Si penelepon juga bertanya tentang berapa penghasilan saya? Dan apakah kampanye salah satu calon presiden yang ingin pemilihan satu putaran saja mempengaruhi saya? Saya akhirnya, dari rangkaian pertanyaan survei itu bisa menebak dari mana dan untuk kepentingan kandidat manakah survei itu dibuat.

Ini lagi-lagi sebuah kerja statistika. Survei lewat telepon itu tak lama. Tapi, saya bisa menilai dari jawaban saya atas pertanyaan-pertanya annya, pasti bisa banyak sekali kesimpulan dibuat. Banyak sekali strategi bisa dievaluasi. Dan tim kerja kandidat presiden yang berkepentingan dengan hasil survei itu bisa mempertahankan atau mengubah banyak hal.

Saya salut pada si perancang pertanyaan dalam survei yang saya menjadi obyeknya pagi itu. Dengan pertanyaan satu saja (yaitu pertanyaan berapa penghasilan saya) lembaga survei itu telah mendapatkan gambaran kultural yang mendukung menguatkan angka-angka lain yang mereka dapatkan. Begitu juga dengan cara mereka menentukan siapa yang menjadi responden survei, yaitu penghuni rumah yang memiliki sambungan telepon tetap.

Kalau setuju pada Fachry Ali maka bisa saja kita juga menyebut kemenangan presiden kali ini adalah kemenangan kultutal, bukan lagi kemenangan politik. Saya ingin menambahkan ini juga kemenangan statistika. (Hasan Aspahani)

Anda Butuh Analisa Data (Skripsi, Tesis, Disertasi, Penelitian) dan Riset Pasar?

Hubungi kami:

www.Bengkeldata.com

email: info@bengkeldata.com
Telp: (021)71088944

Belum Ada Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Arsip Blog

@ All Right reserved 2008. Edited By JuraganTAHU Design by usuario ^