Rabu, Desember 16, 2009

Mantan Tukang Las Itu Kini Raup Omzet Ratusan Juta

Minggu, 13 Desember 2009 | 12.35 WIB

KOMPAS.com - Berawal sebagai tukang las di sebuah bengkel, Adnan sukses menjadi
pebisnis perlengkapan pabrik. Berbagai perusahaan besar telah menjadi
pelanggannya. Yang menarik, modal Adnan mengawali usaha hanya berupa mesin bubut
yang ia sewa dari sebuah sekolah.

Kerja keras dan pantang menyerah menjadi kunci kesuksesan Adnan dalam membangun
usaha. Berpuluh tahun bergelut di bidang pengelasan, akhirnya Adnan berhasil
mendirikan sebuah perusahaan sendiri yang bergerak di bidang pabrikasi.

Di bawah bendera PT Teknik Makmur Perkasa Asri (PT TEMPA), Adnan memasok
berbagai perlengkapan pabrik dan komponen pendukung untuk mesin dan alat berat,
khususnya onderdil yang terbuat dari logam.

November ini, Adnan mengubah bentuk usahanya menjadi perseroan terbatas (PT).
Sebelumnya, usahanya baru sebatas usaha dagang (UD) bernama UD ASRI. Selama
berbentuk UD, Adnan berhasil memperoleh order atau tender melalui pihak
ketiga. Dengan mengusung izin usaha sebagai perusahaan, Adnan berharap bisa
memasok langsung perlengkapan ke perusahaan besar yang selama ini hanya ia kenal
lewat pihak ketiga.

Bersama tujuh pekerja tetapnya, saat ini Adnan memproduksi berbagai perlengkapan
dan komponen, mulai dari mesin pabrik, tangki, komponen penggulung plat, sampai
rol penyekat minyak kapal tanker. Meski terbilang sederhana, Adnan berhasil
membangun tempat produksi sendiri di Kalimalang yang ia sebut sebagai bengkel
pabrik. “Tapi tempatnya masih kecil untuk dibilang pabrik,” ujar Adnan
merendah.

Di bengkelnya, pria asal Boyolali ini mengerjakan berbagai pesanan komponen dari
perusahaan pembuat alat berat, seperti PT Truba Enginering, PT Globindo, dan PT
Krakatau Steel.Â

Siapa sangka, Adnan memulai usaha itu dari nol. Bisa dibilang, ia tak
mengeluarkan modal yang banyak ketika memulai usaha 19 tahun silam. Untuk
bekerja, Adnan menyewa mesin bubut milik sebuah sekolah di Rawamangun dengan
tarif Rp 15.000 per hari.

Adnan menceritakan, keahlian mengelas ia peroleh dari tempatnya bekerja sebagai
tukang las di Jakarta. Delapan tahun bekerja sebagai tukang las alumunium
membuatnya percaya diri merintis usaha pengelasan sendiri. Produk pertamanya
adalah komponen penggulung plat. “Orang tahunya kalau saya ahli membuat
perlengkapan dari logam,” ujar bapak tiga anak ini.

Bisnis Adnan terus berkembang. Kini pesanan kepada dia terus mengalir seiring
semakin populernya nama Adnan. Saat sepi saja, Adnan sanggup meraup omzet paling
tidak sebanyak sekitar Rp 50 juta per bulan. Saat ramai, omzetnya melonjak
hingga ratusan juta rupiah per bulan.

Sejatinya Adnan tidak pernah membayangkan bakal punya perusahaan dan bengkel
kerja seperti sekarang. Kepergiannya dari Boyolali ke Ibukota justru karena
paksaan ekonomi keluarga. Penghasilan orangtuanya dari bertani tidak cukup
untuk membiayai sekolahnya. Ia pun tak ingin terus membebani keluarga. “Hal
itu memaksa saya segera pergi merantau ke mana saja, yang penting bisa punya
penghasilan sendiri,” kenang Adnan.

=======================================
---IKLAN----IKLAN----IKLAN----IKLAN---

Beta Consulting ( Bengkeldata.com ) siap membantu perusahaan/perorangan dalam melakukan analisa data statistika, olah data penelitian , riset pasar dan konsultasi manajemen.

LAYANAN
1. Olah Data Statistika/ Analisa Data Penelitian : Uji Parametrik & Uji Non Parametrik, Bootstrap, REGRESI, KORELASI, Multivariat, dll
2. Training Statistika : SPSS, Eview, SAS, Lisrel, Minitab, Amos
3. Riset Pasar
4. Management Consultancy

Hubungi:
Beta Consulting ( Bengkeldata.com )
Telp: (021) 71088944. email : info@bengkeldata.com
======================================

Alkisah, selepas lulus sekolah teknik mesin (STM) di Boyolali pada 1982, pria
yang mengambil jurusan mesin umum ini berangkat menuju tanah perantauan
pertamanya ke Lubuk Linggau, Sumatra Selatan. Dia berangkat bersama beberapa
rekannya, meski tidak punya kenalan yang dituju di sana. Namun, berbekal
keahliannya dari bangku sekolah, dia bisa dipekerjakan sebagai teknisi sepeda
motor di sebuah bengkel di Lubuk Linggau.

Sayang, baru jalan tiga bulan, Adnan memutuskan kembali ke tanah kelahirannya.
Biaya hidup yang terlalu mahal membuatnya merasa tidak bisa bertahan di
rantau. Setelah kembali ke rumah, lagi-lagi Adnan merasa tidak nyaman
membebani keluarga. Beberapa bulan kemudian dia memutuskan hijrah ke rumah
sepupunya di Jakarta bermodalkan sisa tabungan sebesar Rp 35.000.

Di situ, kesabarannya diuji. Sebab, beberapa bulan berjalan dia belum juga
mendapat pekerjaan. “Selama itu pula saya bantu-bantu pekerjaan rumahtangga,
seperti mengepel, angkat air,” kisah pria 49 tahun ini.

Penantiannya tidak sia-sia. Pada bulan ketiga berada di Ibukota, akhirnya dia
mendapat pekerjaan sebagai teknisi di salah satu bengkel di daerah Tanjung
Priok. Selama bekerja di bengkel itu, Adnan tidak cepat berpuas diri. Dia
berpikir untuk mengembangkan diri dengan belajar keahlian lain. Kebetulan di
bengkel tempatnya bekerja ada kesempatan belajar mengelas. Selama tiga hari
berturut-turut, ia memanfaatkan kesempatan untuk belajar mengelas mobil.

Dari pekerjaan ini, dia cuma mendapat tambahan uang makan. “Saya pikir,
biarlah tidak digaji, yang penting dapat ilmu lebih, karena saya ingin
menjangkau lebih lagi ke depannya,” tuturnya.

Merasa cukup mampu berjuang di lingkup lebih besar, Adnan memutuskan keluar dari
bengkel. Tak lama kemudian, dia diterima sebagai tukang las aluminium di sebuah
perusahaan yang memproduksi peralatan transportasi di Jakarta. “Selama delapan
tahun saya menimba ilmu dan pengalaman di sana. Selama itu pula saya bekerja
sambilan sebagai tenaga panggilan mengelas di Mayasari Bakti,” kenang pria
sederhana ini.

Menurutnya, pendapatan dari mengelas panggilan justru jauh lebih besar dari gaji
bulanannya. “Dari las, saya bisa mencicil rumah ketika itu,” kenangnya.

Hal inilah yang kemudian mencetuskan ide dalam benaknya untuk membuka usaha las
sendiri. Apalagi dengan modal pengalaman dan kenalannya, dia merasa cukup mampu
untuk merintis usaha pengelasan.

Untuk membangun PT Teknik Makmur Perkasa Asri (PT Tempa) hingga beromzet ratusan
juta sebulan seperti sekarang, Adnan harus merasakan gonta-ganti pekerjaan
beberapa kali. Awalnya, usaha Adnan yang bergerak di bidang pembuatan
peralatan pabrik ini masih berjalan tanpa nama. Ia mendapatkan order dari sebuah
Sekolah Teknik Mesin (STM) di Rawamangun, Jakarta. Ia juga menyewa tempat di STM
ini.

Dari sekolah inilah, Adnan menyewa beberapa mesin bubut sebagai alat operasinya.
Selama dua tahun pertama, order pengerjaan mesin datang dari STM tersebut. Tapi,
memasuki tahun ketiga, datang beberapa order dari perusahaan besar dengan nilai
puluhan juta rupiah. Misalnya dari PT Krakatau Steel dan dari PT Globindo di
Sunter untuk mengerjakan empat unit rol penyekat minyak di kapal tanker. Proyek
bernilai Rp 22 juta itu berhasil dia selesaikan dalam tempo tiga minggu saja.
“Waktu itu, saya mulai menabung untuk membeli tanah,” ujarnya.

Sayang, ujian datang ketika Adnan sedang di atas angin. Salah satu pengurus STM
mengusirnya karena merasa kurang cocok. Ia pun terpaksa hengkang dari STM
tersebut dan kembali ke tanah kelahirannya di Boyolali. Ia kemudian memulai
usaha pembelahan kayu. Tapi karena merasa kurang cocok, usaha ini hanya berjalan
beberapa bulan. Begitu pula dengan usaha-usaha lainnya, seperti usaha pembuatan
alat kebersihan, usaha mi ayam, dan lainnya.

Akhirnya, di 1996, ia memutuskan kembali ke usaha semula. “Kebetulan salah
satu kepala unit usaha STM menawari saya tempat,” ujarnya. ujarnya. Tak
menunggu lama, order pun mulai mengalir lagi. Setahun kemudian, dia menamakan
usahanya Usaha Dagang (UD) Asri dan menyewa tempat usaha baru. Tiga tahun
berselang, ia membeli peralatan sendiri. Lantaran biaya sewa tempat usaha
terus naik, Adnan memutuskan membangun bengkel di atas lahan miliknya sendiri
seluas 400 meter persegi. “Dulu dindingnya dari bambu,” kenangnya.

Karena pindah ke lokasi baru dan bengkelnya kurang meyakinkan, order mulai seret
dan terancam tutup. Bahkan pernah satu hari ia hanya punya uang untuk membeli
bensin. “Tapi saya pantang menyerah, rajin promosi dari mulut ke mulut, dan
melobi,” katanya.

Hasilnya, perlahan order mulai mengalir lagi. Produksi bengkelnya terus
meningkat. Bahkan ia sempat menambah mesin dan membangun gudang tiga tahun
silam. “Kuncinya, kualitas produk harus bagus,” ujarnya. Akhirnya,
November ini, usahanya resmi menjadi Perseoran Terbatas (PT). ( Dupla Kartini
PS/Kontan)

Belum Ada Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Arsip Blog

@ All Right reserved 2008. Edited By JuraganTAHU Design by usuario ^