Selasa, Juli 20, 2010

Gagal Resign (MUGG) (Bagian 2)

Oke gezro-ers, setelah di artikel pertama, telah dibahas 2 dari 4 faktor MUGG, yaitu M (Mindset) dan U (utang). Sekarang kita lanjutkan dengan artikel kedua, yang akan membahas 2 faktor selanjutnya. Apakah itu? Mari kita baca terusannya hehehe... tulisan ini diambil dari http://adzan101.blogspot.com/2010/07/mugg-gagal-resign.html

3.Greedy alias serakah

Greedy atau serakah adalah musuh nomor 1 para pengusaha. Penyakit ini
seperti kolesterol yang menyebabkan penyakit jantung, yakni pembunuh
nomor 1 di dunia.

Baru punya itung-itungan diatas kertas, sudah dijadikan patokan..
belom-belom langsung buka 5 cabang… udah gitu pake utang…

Baru buka outlet, juga belom jalan 1 tahun, sudah di franchise kan…
owalah, bisnis anda belum teruji kalo baru 1-3 tahun…

Baru buka satu outlet, beberapa bulan, udah utang bank untuk buka
cabang.. bahkan sudah punya kredit mobil..

Bisnis jualan baju sudah jalan, mapan… kemudian tergoda invest banyak
di bisnis batubara. Duit habis terkuras, sehingga bisnis garmen pun
stagnan ga bisa berkembang karena ga ada dana pengembangan.

Bisnis baru 2-3 tahun, tapi gayanya sudah seperti konglomerasi. Punya
bisnis IT, bisnis agro, bisnis garment, bisnis retail, bisnis makanan,
bisnis pelatihan. Akhirnya satupun tidak ada yang jalan.

Saya pernah ditanya oleh salah seorang mahasiswa, “mas, klo kita
bisnisnya banyak, kan profit kita jadi lebih banyak.. bukannya lebih
enak begitu?”
Saya jawab simple, “mas kuliah ambil jurusan apa?”
“Teknik” katanya
Saya lanjutkan, “kenapa ga nyambi kuliah di FE, Kedokteran, Fisip,
Sastra, MIPA, sekalian supaya sekalian gelarnya menjadi SE, ST, S.Ked,
S.Sos, S.Hum. kan lebih enak banyak gelar.”
Dia jawab lagi, “Lha gimana bagi waktunya mas? Yang ada saya di DO
karena nilai jelek semua, trus malah ga dapet gelar sama sekali!”

Ngapain kita keblinger.. dan tergoda sama gemerlapnya bisnis
teman-teman kita? Coba berpikir ulang deh, bisnis kita yang ada
sekarang itu selalu ada kemungkinan untuk menjadi besar kan? Ngapain
juga tergoda sama bisnis orang lain? Yang di share ya pasti yang
baik-baiknya saja toh…. Sisi “horror”-nya sudah pasti tidak
diceritakan hehe.

Saya pernah tersandung di bisnis bioethanol yang tidak focus.. rugi
ratusan juta.. saya hanya ingin pengalaman ini berguna buat
teman-teman semua. Supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Sinar matahari ketika difokuskan dengan lensa cembung, sanggup
membakar kertas. Itulah kekuatan focus! Coba perhatiin orang-orang
terkaya di dunia, bisnis nya focus. Bill Gates, Steve Balmer, Oracle,
Wal-Mart.. walau di Indonesia masih di dominasi konglomerasi seperti
Bakrie, CT, Sandiaga Uno, dll


4. Gengsi

Ini adalah akar masalah yang ke-4. Maunya sih setajir Chairul Tanjung
yang sekarang. Tapi ga mau niru jalan-nya Chairul Tanjung 30 tahun
yang lalu.. jungkir balik jagain mesin fotokopi.. jagain warung alat
kedokteran.. nah klo kita? Belom-belom udah nyuruh dan hire karyawan
buat jagain warung.. alesannya karena malu. Kalo saya mah mending malu
jagain warung, daripada harus menyusahkan orang lain karena tidak
punya penghasilan

Bisnis itu naik-turun.. biasanya banyakan turun-nya. Turun 100 kali,
naik 1 kali. Tapi naik 1 kali itu sudah cukup untuk membayar turun 100
kali. Toh Kolonel Sanders dan Thomas alfa Edison ditolak dan gagal
1000 kali, tapi usaha terakhirnya bisa menutup semua kerugiannya.
Jangan Cuma siap kaya, tapi juga harus siap miskin. Yang penting
nikmati prosesnya

Bob Sadino bahkan pernah bangkrut. Dan kata istri om bob, saat itu
uang yang ada Cuma cukup untuk membeli nasi ATAU rokok. Om bob harus
memilih. Akhirnya saat itu om bob memilih nasi, sementara untuk
kebutuhan rokoknya belio mencari puntung-puntung bekas.. kita siap
tidak menjadi seperti ini?

Teman-teman dari kalangan Chinese, malah sudah biasa dengan menu
bubur. Padahal warungnya sudah ramai. Tapi dengan tekun mereka
mengumpulkan tabungan, untuk memperbesar bisnis.

Ketika azzam (keinginan) kita sudah kuat, seharusnya tidak berpikir
jalan untuk mundur. Separah-parahnya kondisi kita, kita bisa ngasong,
mbenerin komputer, jadi supir, jualan Koran.. ya minimal untuk sekedar
membeli beras…
Seorang pengusaha bernama halilintar, bahkan sempat memiliki
perusahaan di New Zealand dan Perancis. Bisnisnya ambruk. Dan belio ga
malu untuk jadi tukang ledeng. Dipanggil ke rumah-rumah dsb. Sempat
belio malu, karena customer yang memanggilnya adalah orang yang belio
kenal. Kini bisnisnya bangkit lagi, dan bahkan lebih besar dari
sebelumnya.

Saya sendiri pernah menjadi distributor makanan ikan hias, saya antar
dengan sterofoam ke toko ikan hias dengan motor.. ya rasa malu tetap
ada, tapi kalo dibawa enjoy sih asik-asik aja. ketika bisnis warnet
habis, saya turun langsung untuk membantu teman-teman mendirikan
warnet dengan memberikan pengalaman gagal saya untuk tidak terulang di
warnet yang baru tersebut. Ya, saya melakukannya sendiri, tanpa
karyawan. Alhamdulillah masa-masa kritis itu bisa dilewati, kini
perusahaan ISP saya (www.net-cyber.com) memiliki sejumlah klien
corporate. Bahkan sebentar lagi ada perusahaan Jerman menggunakan jasa
internet dari www.net-cyber.com . Jasa Konsultan IT juga kebanjiran
order dari instansi-instansi besar untuk web/software development.


Pertanyaannya, maukah kita menurunkan standar gaya hidup ketika bisnis
menurun? Tadinya naik mobil, sekarang naik motor. Sekarang jagain
sendiri gerobak mie ayam kita, gunting credit card, Anak-anak sekolah
nya di sekolah yang mahal, pindahkan ke sekolah inpres, kurangi
kebiasaan makan di resto, atau bahkan sampai berpuasa untuk menghemat
pengeluaran, pindah ke kontrakan petak sementara rumah utama kita
disewakan… Maukah kita? Sekali lagi ini adalah pilihan.

Kesimpulan

Menjadi pengusaha adalah pilihan hidup dengan segala risiko nya (baik
untung besar ataupun bangkrut). Jangan pernah menyalahkan orang-orang
di sekitar anda, ataupun komunitas yang meng-encourage anda untuk
resign. Mereka ga salah. Bahkan harusnya kita berterima kasih. Niat
mereka juga untuk kebaikan kita juga. Lebih banyak introspeksi diri.

Ternyata penyebab frustasi berbisnis berpusat pada 4 faktor, yakni
MUGG (Mindset, Utang, Greedy, Gengsi). Perbaiki mindset kita, hapus
hutang yang tidak produktif, jauhi sifat Greedy dan Gengsi.

Tiap orang mungkin berbeda-beda, saya sendiri sih benar-benar sudah
“bakar kapal”.. jadi insya allah sampai saat ini belum pernah ada
pikiran untuk menjadi karyawan. Jauh-jauh saya buang pikiran itu…
karena jalur entrepreneur adalah jalan saya.. disinilah aktualisasi
saya.. saya akan tetap di jalur ini, walau saya harus menjadi tukang
servis komputer panggilan, atau harus jaga warnet. Saya turunkan gaya
hidup (jangan tiru prinsip ini jika tidak sesuai dengan anda)

Tapi lebih dari itu… kita harus bermimpi mengisi daftar 10 besar
orang-orang terkaya di Indonesia, bahkan di dunia. Karena itu,
teruslah bergerak. Teruslah berinovasi. Teruslah mengeluarkan
karya-karya terbaik!

Ingat pesan mbah Kiyosaki, dari income jangan langsung keluar menjadi
expenses atau liability.. income masuk dulu ke asset yang menghasilkan
passive income. Yang dengan passive income itu baru kita keluarkan
untuk expenses atau liability.

Nikmati semua proses sebagai ibadah. Ingat, selama kita istiqomah (ga
nyerempet-nyerempet yang haram) maka kita selalu ada di jalur
kemenangan…

Terakhir mohon maaf kalo terlalu panjang, ada salah-salah kata ataupun
menyinggung… tidak ada maksud lain selain untuk kebaikan kita semua…

Belum Ada Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Arsip Blog

@ All Right reserved 2008. Edited By JuraganTAHU Design by usuario ^