Senin, Juli 19, 2010

Gagal Resign (MUGG) (Bagian I)

Dear Gezrot-ers, berikut saya sajikan sebuah artikel yang sangat-sangat menarik, membahas bagaimana orang ingin memulai bisnis, kemudian resign dari tempatnya bekerja, namun, setelah beberapa lama, akhirnya kembali lagi ‘harus’ mencari pekerjaan karena bisnisnya banyak mengalami ‘gangguan’. gagal maning...gagal maning :) :)
Ditulis oleh seorang bisnisman yg sudah lama malang melintang di jagat bisnis hehehe... Artikel ini akan dibuat menjadi 2 tulisan yang saling bersambung. Oke, kita mulai dari tulisan pertama. Tulisan ini diambil dari blog http://adzan101.blogspot.com/2010/07/mugg-gagal-resign.html

Akhirnya terpaksa menulis lagi..
karena bertubi-tubi mendapat pertanyaan/curhatan yang sama, hampir setiap hari..
jadi biar jawabnya mudah, supaya dirujuk ke tulisan ini..

begini kira-kira
Ny X :
"Dzan, gw capek nih dengeran cerita salah seorang member dari kota S.
Tiap hari curhat, gara-gara udah resign tapi bisnisnya ga jalan-jalan
alias bangkrut. Sekarang malah keluarganya terancam perceraian. Orang
itu agak nyalahin komunitas yang komporin resign tanpa diberitahu
resiko nya. Harusnya kasitau donk resiko resign dll, jangan cuma yang
enaknya doank yang di share di komunitas. Dan banyak lho member yg
bernasib sama.. gimana nih?"

Mr.Y :
"Bro, ada yang lagi curhat nih. teman saya frustasi. sudah resign trus
bisnis bangkrut. dia bener-bener frustasi. Sekarang dia menghidupi
keluarganya dengan "jatah" dari mertuanya. Gimana nih?"

Mr. Z
"utang jadi banyak banget..Gw nyerah nih bro.. gw mau jadi karyawan
lagi. tuntutan hidup makin berat, gw butuh kepastian penghasilan...”

Menghela nafas sebentar...
Bingung juga, mulai darimana ya njelasin nya

Mulai dari kapasitas saya untuk menjawab dulu deh
1. saya bukan founder dari komunitas tersebut… saya hanyalah anggota biasa.

2. saya belum pernah merasakan jadi karyawan/TDB atau apapun
istilahnya. Karena semenjak kuliah sudah berdagang. Walau begitu saya
bisa merasakan beratnya perjuangan bisnis orang-orang yang sebelumnya
pernah bekerja.

3. tapi saya pernah mengalami kegagalan, kemunduran, kebangkrutan yang
sama. Bahkan berkali-kali. Dan berkali-kali itu pula, alhamdulillah
dengan pertolongan Allah, saya selalu bisa untuk bangkit kembali.

Oke, setelah tau kapasitas saya untuk menjawab, lanjut ya sekarang ke
pembahasan.

Pertama : Menjadi karyawan tidak berarti lebih buruk dari menjadi
pengusaha. Dan menjadi pengusaha, belum tentu lebih baik daripada
karyawan

Mengapa?

- karena yang lebih mulia di sisi Allah adalah yang lebih bertakwa.
Karyawan yang bertakwa jauh lebih baik daripada pengusaha yang korup
- ga semua pengusaha itu lebih kaya dari karyawan.. contoh :
penghasilan saya saat ini tidak lebih besar dari Dirut Bank Mandiri
hehe


Kedua : Pahami bahwa status pengusaha dan karyawan adalah hanya
aktualisasi diri kita dalam kehidupan. Semua sama saja. Sama-sama
dibutuhkan umat manusia

Bayangkan bahwa isi dunia ini adalah sebuah organisasi besar. Ada
orang-orang yang bertugas menjaga keamanan (tentara/polisi), ada
orang-orang yang membantu orang yang sakit (paramedic), ada yang
mengatur Negara (politisi), ada pengusaha dan lain-lain.

Semuanya sama-sama dibutuhkan. Tidak ada boleh merasa lebih antara
satu dan lainnya.


Ketiga : Pahami resiko

- Jadi tentara/polisi dituntut latihan fisik yang lebih. Kalo kita
bukan tipe yang demikian, jangan dipaksakan ber-aktualisasi disana.

- Jadi dokter/paramedic dituntut untuk lebih empati dan sabar. Kalo
kita ga nyaman ada orang yang malem-malem minta diobati, ya jangan
jadi dokter

- Jadi pengusaha dituntut untuk siap profit dan siap rugi. Siap maju
dan siap bangkrut. Kalo kita ga punya mental siap bangkrut, ya ga usah
jadi pengusaha. Tapi ketika kita memilih menjadi pengusaha, ya terima
resiko nya apapun itu. Jangan mengeluh, karena ini adalah pilihan
kita. Tapi kalo memang tidak cocok, ya jadi karyawan juga ga lebih
hina..

- Kata siapa pengusaha banyak waktu luang? Justru pengusaha bisa
bekerja 24 jam non-stop! Tapi bedanya, kita mencintai pekerjaan kita
jadinya tidak terasa capek. Jadi jangan bermimpi menjadi pengusaha itu
bisa bermalas-malasan.

- Belum lagi risiko dicibir orang, keluarga, mertua dll ketika baru
merintis bisnis… dibilang ga punya pekerjaan tetap lah… pekerjaan ga
jelas lah.. penghasilan ga jelas.. malu-malu-in lah.. hayo apa lagi?


Keempat : Terima Konsekuensi

- Masuk jadi tentara trus mengeluh.. “gimana sih suruh lari 10km
setiap hari! Emangnya ga capek!”.. “Ah, bapak/ibu sih yang maksa jadi
tentara! Udah saya bilang saya ga suka! Pegel-pegel nih latihannya!”

- Masuk jadi dokter juga mengeluh… “gila… tiap hari harus liatin
darah… harus deket-deket sama orang-orang kusta, orang kudisan, exim…
mana gw tahan..”.. “gara-gara siapa nih?”

- kira-kira begitulah kalo salah pilih menjadi pengusaha… terdengar
seperti anak kecil ya? Ya begitulah seharusnya anda melihat diri anda
ketika anda mengeluh. Ngerasa salah jalan? Belum telat kok untuk
pindah haluan, tapi satu yang pasti : gentle donk sama pilihan
sendiri! Jangan mengeluh! Apalagi nyalah-nyalahin orang lain atau
komunitas…

Jadi, mohon maaf, saya agak kurang sepakat jika menyalahkan komunitas.
Plis, jangan biasakan BEJ (blame, excuse, justify). Biasakan untuk
menyalahkan diri sendiri.


Akar masalah adalah MUGG
Kemudian saya merenungkan akar permasalahannya. Ternyata
ujung-ujungnya ada di 4 faktor ini, sebut saja MUGG

1. M stands for Mindset
Mindset sebagai akar masalah yang pertama. Saya mau jadi jenderal,
tapi ga mau jadi letnan dulu. Maunya langsung jadi jenderal. Ga mau
latihan fisik, ga mau belajar/sekolah, ga mau diperintah atasan.

Saya mau jadi pengusaha, saya mau seperti Bob Sadino, tapi ogah banget
nganter-nganter telor ayam door to door. Ogah banget gw kerja sampe
larut malam, malah ga tidur.

Saya mau jadi Begawan property seperti Trump, tapi ogah banget klo
pernah bangkrut total kayak Trump.

Wake up! Jangan cengeng! Semua pengusaha-pengusaha besar pasti pernah
mengalami kegagalan besar… dan mereka kuat.. mereka bertahan

Saya sendiri pernah mengalami kebangkrutan total.. bayangkan saja,
dari 10 warnet yang dulu saya punya, kini hanya tinggal 1 cabang saja.
Saya tidak menyerah. Hidup isinya perubahan. Saya lihat banyak orang
berbondong-bondong membuat warnet. Dan mereka kesulitan untuk
mengelolanya. Dan ketika mereka berbondong-bondong klik
www.warnet-alpha.net (tentu saja, berbekal integritas yang terus
dijaga selama 6 tahun), kini kami bertransformasi menjadi penyedia
jasa setup dan maintenance warnet nomor wahid di Indonesia.

Bisnis bioethanol saya pun bangkrut. Total kerugian dengan warnet
menjadi milyaran. Bangkrut, dikhianati, miss-management adalah
pelajaran-pelajaran yang berharga.. kini saya alhamdulillah dengan
pertolongan Allah telah melewati masa-masa krisis itu dan bahkan
membalikan keadaan. Lebih matang, lebih dewasa, sekarang apa-apa bisa
jadi duit.. bahkan tanpa modal sekalipun..

Coba hitung, berapa waktu yang anda habiskan untuk memikirkan bisnis
anda? Berapa jam per hari? Jangan-jangan Cuma 1-2 jam saja, atau
Jangan-jangan anda malah keasikan membuat list daftar barang-barang
konsumtif yang mau anda beli.

Coba hitung, berapa modal yang diinvestasikan untuk bisnis anda?
Untuk marketing? Untuk pengembangan? Untuk penyusutan? Untuk riset?
Untuk seminar? Atau malah lebih banyak uang yang dihabiskan untuk
keperluan konsumtif?

Anda gagal karena mindset anda! Mindset anda yang bilang bahwa jadi
pengusaha bisa jalan-jalan sementara bisnis jalan sendiri.. mindset
anda yang bilang adanya passive income tanpa perlu bekerja. Tapi anda
bertemu realitas yang berbeda, dan anda tidak siap untuk itu… anda
panic.. karena tidak seenak yang dijanjikan itu…

Jadikan profesi pengusaha ini untuk pengabdian dan untuk ibadah. Insya
allah semua terasa nikmat. Kerjakan dengan enjoy dan sebaik-baiknya,
pada titik itu justru order/proyek/client/customer yang akan
mengejar-ngejar anda! Percayalah!


2.Utang--U

Utang adalah akar masalah yang kedua. Ini adalah masalah yang sangat
sensitive. Rasulullah sangat tidak menganjurkan berhutang, dan
meng-encourage bagi hasil atau bekerjasama. Saya sendiri bukan orang
yang anti-hutang, hutang boleh-boleh saja (walau saya belum pernah
berhutang ke bank).. asal ada hitung-hitungan yang matang..

Contoh : bisnis jualan kue kita sudah memiliki satu karyawan untuk
antar kue. Dengan net-profit bisnis 2jt/bulan. Kemudian jalan 2 tahun
bisnis berkembang, net-profit menjadi 5jt/bulan. Bahkan order melebihi
kapasitas produksi. Jika harus investasi mesin produksi baru plus
inventaris motor buat antar dengan cara berhutang, maka misalkan
diasumsikan ada beban cicilan sebesar 3jt/bulan.

- Dan dengan mesin baru itu yang dicicil itu, ternyata net-profit
meningkat menjadi 7jt/bulan. Nah itu baru hutang yang bener! Untuk
leverage atau pengembangan bisnis. Dan dengan cicilan yang masih bisa
ter-cover dengan bisnis yang ada.

- Biasanya nih, dengan net-profit “Cuma” 2jt/bulan, kita nekat buka
cabang! Supaya bisa franchise katanya! Hutang puluhan bahkan ratusan
juta yang cicilannya diatas 5jt. Padahal present net-profit kita Cuma
2jt/bulan! Gimana ini logika nya… sementara tidak ada jaminan bahwa
cabang akan selalu untung. Apa bedanya dengan spekulasi? Beda kalau
misalnya menggunakan uang dari kantong sendiri

- Ada yang lebih parah. Bisnis nya malah belom ada, tapi udah utang
ratusan juta buat buka toko kue. Nah yang ini lebih sableng lagi… saya
benar-benar tidak menyarankan untuk memulai bisnis dengan hutang!
Jangan pernah!

- Ditambah lagi utang-utang buat gaya hidup ga penting… cicilan mobil,
cicilan blackberry, cicilan TV LCD, mention it… Jangan pernah beli
segala sesuatu secara kredit ketika diperuntukan untuk urusan pribadi
(bukan perusahaan). Tundalah kesenangan kecil, demi mendapat
kesenangan besar nanti!

- Bayangkan anda buka 10 toko kue dengan modal utang. Cicilan
50jt/bulan. Itulah yang membuat anda menjadi frustasi! Nikmati
pelan-pelan… jalani semuanya dengan sederhana… selesaikan pekerjaan
dengan sebaik-baiknya.. biarkan sunnatullah bekerja. Ketika anda
bersungguh-sungguh, pasti order yang akan mengejar anda… walau anda
menolak sekalipun.. insya allah

- Buka 1 cabang dulu.. biar kan menjadi “matang” selama 3-4 tahun,
kemudian buka cabang dengan duit tabungan sendiri. Bukan utang.
Setelah buka 5 cabang dan berhasil, baru bicara franchise. Atau kalau
memang yakin profit, mengapa harus franchise? KFC, Hokben, Gokana juga
ga franchise kok..

- Ga punya duit buat 1 cabang? Patungan sama temen! Tentu saja yang
bisa dipercaya plus mau sama-sama bekerja.

- Ga percayaan sama temen? Ya mulai dari door to door direct selling.
Bisa tuh ga pake modal.

- Malu? Tengsin? Males? Ya ga usah jadi pengusaha…

Coba yuk, bisnis dengan modal yang ada aja. Klo Cuma ada 10jt, ya pake
itu aja cukup kok. Klo Cuma ada 1jt, ya udah cukup juga… bisnis saya
www.jasakomputer.com modalnya Cuma 1jt, belum jalan setahun
menghasilkan net-profit tembus 2 digit alias 10jt. Asal focus!

1 Komentar

Barbie Aida mengatakan...

hihihihiih seru banget baca yang ini,..
bisa sambil ketawa2 tp dapet pesan yg berharga,..
makasie udah membangunkan aku dr mimpi yg ga jelas selama ini ,.. wkwkwkkwk
sukses terus ea...

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Arsip Blog

@ All Right reserved 2008. Edited By JuraganTAHU Design by usuario ^